Pieter Jansz adalah seorang misionaris dari gereja Mennonit Belanda. Ia lahir di negeri Belanda pada 25 September 1820 dari keluarga pedagang buku. Semula ia adalah seorang guru di sekolah dasar di negeri kincir angin tersebut. Pada waktu itu istri tercintanya meninggal, sesuai dengan perjalanan waktu, dia tertarik menjadi seorang misionaris yang kemudian diutus oleh Doopsgezinde Zendingsvereeniging (DZV) -Misi Pekabaran Injil Mennonit- di Belanda, untuk menjadi penginjil di “seberang lautan” tepatnya di Jawa. Sebelum menuju tanah Jawa ia dipersiapkan untuk belajar bahasa Jawa dan bahasa Melayu secara khusus di Koninklijke Akademie di Delft, kemudian belajar teologi kepada`Prof. Jan van Gilse di Seminari Mennonit Amsterdam. Sebagai pelengkap tugasnya pada pekerjaan misi, Pieter Jansz menikah lagi dengan seorang gadis bernama Jacoba Wilhelmina Frederica Schmilau dari Rotterdam, sebagai pemdampingnya dalam menjalankan tugasnya.
Pada tanggal 5 Juni 1851 pasangan muda tersebut berangkat mengarungi lautan lepas dan sampai di Batavia (Jakarta) pada 15 Nopember 1851. Di Batavia ini dia disambut oleh Hunnich dan Bleker, sahabatnya yang lebih dulu bekerja di Jawa. Setelah melapor kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, dia berangkat ke Semarang untuk bertemu dengan Hoezoo. Oleh pendeta di Semarang tersebut, kemungkinan Jansz akan ditempatkan di Banyumas, Tegal, Demak atau Pasuruan. Semula Pieter Jansz bermaksud mencari pekerjaan sebagai guru sesuai profesinya. Kemudian pertama kali dia menjadi guru privat bagi putra-putri RAA Tjondronegoro IV, Bupati Demak, (kakek RA Kartini-pahlawan nasional). Kemudian oleh Bupati Demak tersebut Jansz disarankan untuk bekerja sebagai guru di Jepara. Jansz setuju, dengan mengendarai perahu lewat perjalanan laut, Jansz dan istrinya tiba di Jepara pada 14 Agustus 1852. Untuk sementara menetap di kota Jepara sambil menunggu persiapan tempat di perkebunan milik Margar Soekiazian (Markar Sukias), di Cumbring, sekitar enam kilometer ke arah selatan dari Mlonggo, Jepara.
Sambil menunggu surat izin melakukan aktivitasnya sebagai guru dan penginjil. Surat izin itu akhirnya keluar pada 17 Pebruari 1853, yang berisi memberi izin: pertama, membuka sekolah untuk anak-anak pribumi, kedua memberitakan Injil di antara orang-orang di Jepara. Sebetulnya Jansz hanya meminta izin untuk mendirikan sekolah bagi pribumi, tetapi diberi izin pula memberitakan Injil. Di samping mengajar di sekolah, Pieter Jansz juga mengumpulkan orang-orang di perkebunan Sukias, seminggu sekali. Mereka itu adalah para kepala desa dan pekerja di perkebunan. Namun rupanya orang-orang itu tidak tertarik dengan apa yang disampaikan oleh Pieter Jansz, walaupun ceramahnya tentang kebenaran Tuhan. Karena latar belakang Pieter Jansz yang seorang Belanda, yang bagi orang Jawa dianggap sebagai penindas bangsa Jawa berabad-abad lamanya.
Jansz dan istrinya sangat rajin memberitakan Injil, walaupun mengalami berbagai kendala terutama masalah budaya dan anggapan bahwa orang Belanda sebagai penjajah. Kemudian dia meminta Jallesma dari Mojowarno untuk mengirim seorang penginjil dari bangsa Jawa dan kemudian dikirim Sem Sampir sebagai pembantunya melaksanakan penginjilan. Setelah itu para penginjil yang membantu Jansz banyak diambil dari bangsa Jawa yang secara budaya lebih mudah diterima oleh orang-orang Jawa di Jepara, karena ada kesamaan budaya, bahasa dan perilakunya. Dengan metode ini pengikut Jansz makin bertambah, baik di kota Jepara maupun di Kedungpenjalin.
Di samping menjadi guru dan ceramah-ceramah agama, Jansz menulis artikel yang cukup fenomental yang berjudul “Wektune wis Tekan, Kratone Allah wus Cedhak. Padha Mratobata lan Pracaya Marang Injil.” (Waktunya telah datang, Kerajaan Allah sudah dekat, Bertobatlah dan Percaya kepada Injil). Akibat tulisan itu maka izin pekabaran Injil Jansz dicabut oleh pemerintah Belanda. Rintangan pekabaran Injil sering timbul justru dari pemerintah Belanda. Pertama perilaku orang Belanda yang menindas orang pribumi, ini menunjukkan sebagai kesaksian yang tidak baik bagi orang-orang pribumi. Kedua dalam waktu tertentu Belanda sering melarang pekerjaan pelayanan yang dilakukan jemaat Tuhan, termasuk jemaat yang digembalakan Jansz di Jepara. Sebagai contoh, kebaktian yang diselenggarakan di luar kota mendapat rintangan dari orang-orang pemerintah, bahkan pernah terjadi semua orang Kristen Jawa digiring polisi ke kantor pemerintah untuk diminta keterangannya.
Namun demikian, Pieter Jansz adalah penginjil yang tangguh, dia tetap setia dan berani menghadapi pemerintah dalam hal pelarangan tersebut. Di hari tuanya, Jansz lebih fokus pada terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Jawa dan menulis buku, kemudian menjalin hubungan yang erat dengan pihak Perpustakaan Keraton Surakarta. Sedangkan pekerjaan pelayanannya dilanjutkan oleh Pieter Anthonie Jansz, putra sulungnya.
Pieter Jansz dan istrinya adalah pasangan muda belia dan sebagai pengantin baru, ketika menginjakkan kakinya pertama kali di tanah Jawa, sebagai pasangan utusan Kristus di Jawa, khususnya di sekitar gunung Muria. Pieter Jansz adalah seorang penginjil yang memegang prinsip Injil yang kokoh, disiplin dan setia dalam pelayanannya sampai akhir hayatnya. Pieter Jansz wafat pada 6 Juni 1904 di Kayuapu, Kudus dan dimakamkan di sana.
(Disarikan dari buku “Tata Injil di Bumi Muria” oleh Isandar MZ).